Minggu, 14 Februari 2010

Etika Menegur

Oleh: Ali Nurdin

Dua orang sahabat saya tiba-tiba menjadi berang bukan main. Pasalnya, tindakan mereka mendaftarkan diri menjadi PNS mendapat sambutan yang kurang hangat. Terutama Big Bosnya. Sebagai bos, Ia merasa kecolongan atas sikap kedua partner kerjanya. Apalagi banyak ilmu yang sudah diberikan. Khususnya Dirman.
Dirman merupakan partner kerja big bos yang mungkin saja sudah lebih tiga tahun dipimpin. Dirman dipoles menjadi guru yang berani bicara dan kreativ. Bahkan terakhir diberikan beasiswa. Namun karena kasus ini, akhirnya Dirman diminta mengembalikan beasiswa tersebut. Dirman pusing tujuh keliling. Terpaksa ia meminjam uang bokap untuk mengganti. Walau pun pada akhirnya dipinjamkan, Dirman tetap menyesalkan tindakan bosnya. Kenapa harus seperti ini? Apakah salah Ia mencari penghidupan yang lebih menjanjikan? Tentu tidak.
Parahnya, kenapa hal ini diungkap di depan khalayak. Sehingga, Dirman dan temannya, hanya bisa terdiam, malu. Pasrah. Tapi dengan lulusnya sebagai PNS, mereka tidak menyesal sama sekali keluar dari sekolah. Good luck my friend.

Kenapa Mesti Memilih?

Oleh: Ali Nurdin

Setelah tersandung kasus merokok, ternyata berbuntut panjang pada masalah lain. Salah satunya tidak boleh membonceng perempuan yang belum sah miliknya. Hem..saya jadi serba bingung. Dan kebingungan saya pun tiba ketika ... “Numpang dong, saya mau ke kampus. Boleh gak?” pinta salah seorang tetangga. Kebetulan tidak ada yang mengantar. Saya karena merasa iba, dengan senang hati mengijinkan. Namun setelah duduk di jok motor, saya baru ingat bahwa saya sedang dalam masa-masa transisi. Masih dalam pengawasan sekolah. Sebab jika masih membonceng perempuan, maka saya akan segera dipecat. Dengan berat hati saya memintanya untuk turun dan menjelaskan duduk persoalannya. Untungnya perempuan ini mau mengerti. Sehingga saya dengan tanpa dosa meninggalkan begitu saja.
Menolong seseorang apakah dilarang agama Islam? Sebenarnya bagaimana Islam menyingkapi hal ini?